Archive Page 2

27
Dec
08

In Salah – Algerie CCS Project

Project ke 3 StatoilHydro untuk CO2 injection adalah berlokasi di In Salah Gas Field
Di central Algerian sahara.

Field dioperasikan bersama oleh Sonatrach, BP, dan StatoilHydro.

Baik alasan bisnis dan teknis dari separasi CO2 gas dari natural gas adalah sama dengan di Sleipner.

Separasi adalah dilakukan dengan Amine process.

Sejak tahun 2004, pertahunnya telah di capture dan di simpan sekitar 1,2 million tonnes CO2 di In Salah Field.

CO2 gas disimpan di layer yang sama dengan natural gas, tetapi dalam jarak yang aman.

Cap rocks yang sama yang menjaga narutal gas in place diharapkan juga akan menjaga CO2 gas secara aman tersimpan.

Sebagaimana project serupa yang sedang dilakukan di Mongstad, diharapkan teknologi dan inovasi ini akan bermanfaat untuk carbon capture storage masa depan.

sumber : StatoilHydro

27
Dec
08

Mongstad CCS Project

Thermal Power Plant baru yang berlokasi di Mongstad Norway (EVM) akan menjadi energy saving yang sangat besar dalam hubungannya dengan masa depan capture dan storage dari CO2.

Pemerintah Norwegia dan StatoilHydro telah menandatangani perjanjian untuk konstruksi full scale CO2 Capture and Storage di Mongstad.

Di dalam tahap pertama dari konstruksi plant tersebut, akan dapat menangkap 100.000 tons CO2 per tahun. Perencanaan harus selesai bersamaan dengan Heat Power Plant mulai beroperasi di tahun 2010.

Tahap 2 yang diharapkan dari full scale sistem ini adalah kemampuan meng capture CO2 dari Heat Power Plant dan sumber emisi lainnya di dalam atau di luar Mongstad Refinery.

Keputusan final dengan full scale installation size dan type akan diselesaikan di 2012, dan design dan pekerjaan konstruksi akan dilakukan sesudahnya.

Kerjasalam resolusi juga dilakukan pada Lapangan offshore Troll, dimana Mongstad akan menyediakan efisiensi energi yang tinggi.

Menggunakan power yang efektif, power heating ini dapat memperkuat dan pembangunan lebih lanjut Mongstad sebagai pusat industri.

Ketika plant dalam operasi, kemungkinan juga untuk mengambil manfaat dari energy yang tidak terpakai.

Fasilitas produksi energi baru ini akan memiliki fasilitas 280 MW listrik dan 350 MW dalam bentuk heat. Listrik ke lapangan offshore Troll berdasarkan kontrak partner dari Thermal Power Plant akan membakar Natural Gas dari Filed dan Fuel gas dari Refinery, dan sebagai tambahan untuk mensuplai refinery juga dengan power ke Troll A gas Platform dan Kollsnes.

Plant ini akan menjamin long term supply listrik ke Troll. Dimana kebutuhan power meningkat sebagai konsekuensi reservoir pressure drops, dan juga kebutuhan untuk menginstall kapasitas kompressor yang lebih besar untuk mengtransport gas.

Rencana gas pipeline dari Kollsness ke Mongstad adalah bagian dari production dan landing system untuk Troll Field. Pipeline akan mentransport fuel yang digunakan untuk produksi dari listrik ke Troll A dan Kollsnes Plant.

Heating Power Plant di Mongstad akan memperkuat energi balanse dari total power di Norwegia dan menolong kekurangan energi di Bergen region.

Ini akan menjadi sebuah project yang solid, baik bagi industri dan ennvironment.

Peletakan batu pertama telah dilakukan pada mid-january 2007, Heat dan Power Plant direncanakan siap untuk beroperasi di tahun 2010.

Ini akan dibangun, dimiliki dan dioperasikan oleh Danish Power Company , Dong Energy.

Sumber : StatoilHydro

02
Nov
08

Menyulap Gelombang Laut jadi Energi Listrik

Oleh: Restituta Ajeng Arjanti

Alam menyediakan banyak sumber daya yang bisa diolah menjadi energi alternatif. Gelombang air laut termasuk salah satunya. Memanfaatkan sumber daya alam tersebut, Zamrisyaf, salah satu staf perencanaan PLN di wilayah Sumatera Barat, mengembangkan sebuah pembangkit listrik.


Memanfaatkan Sistem Bandul

Pembangkit listrik yang digagas Zamrisyaf dibuat dengan memanfaatkan tenaga gelombang laut dan sistem bandulan. Rancang bangunnya berbentuk ponton, sampan yang rendah dan lebar, yang ditempatkan mengapung di atas permukaan air laut.

Konsep pembangkit listrik tenaga gelombang laut sistem bandulan (PLTGL-SB) ini sebenarnya sederhana. Gerakan air laut akan menggerakkan ponton sesuai dengan alur dan fluktuasi gelombang air laut. Gerakan ponton akibat fluktuasi gelombang laut itu akan membuat bandul-bandul yang ada di dalamnya ikut bergoyang seperti lonceng. Gerakan bandul tersebut, kata Zamrisyaf, akan ditransmisikan menjadi gerakan putar untuk memutar dinamo. Dari situlah, selanjutnya PLTGL-SB bisa menghasilkan energi listrik.

Idealnya, PLTGL-SB dibangun di perairan yang memiliki potensi gelombang laut. Penempatannya, menurut Zamrisyaf, kurang lebih kurang 500-1000 meter dari bibir pantai. Ia menambahkan, seluruh peralatan penggerak, mulai dari bandul sampai dinamo, dipasang dan ditempatkan di dalam ponton. Dengan begitu, selain ponton, tidak ada satupun peralatan utama yang terkena air laut.

Kelebihan

Pembangkit listrik tenaga gelombang laut dengan sistem bandul ini punya beberapa kelebihan. Yang pertama, teknologinya sangat akrab dan ramah lingkungan. “Di samping tidak menggunakan bahan bakar minyak, dalam penempatan pembangkit ini tak ada lahan yang perlu dimodifikasi. Jadi, tidak merusak lahan,” papar Zamrisyaf. Bahkan, tambahnya, teknologi ini bisa mengatasi abrasi pantai karena energi gelombang laut yang akan menghantam pantai diambil oleh pembangkit untuk dijadikan energi listrik.

Kelebihan lainnya, dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga gelombang laut lainnya yang umum diproduksi di luar negeri, misalnya yang memanfaatkan temperatur, arus, atau tekanan air laut; PLTGL sistem bandulan ini lebih aman dari kemungkinan rusak akibat air laut. Alasannya, tak ada satupun peralatan utamanya yang terkena air laut, kecuali ponton. Karena itulah, kata Zamrisyaf, pembangkit listrik yang menjanjikan kapasitas daya sekitar 500kW per unit ini cocok untuk diterapkan di daerah kepulauan seperti Indonesia.

Terinspirasi Lonceng Kapal

Zamrisyaf mengaku sudah tertarik dengan energi gelombang air lalu sejak akhir tahun 1990. Ceritanya dimulai saat dia, dalam perjalan pulang ke Padang dari kepulauan Mentawai, merasakan gelombang laut mengombang-ambingkan kapal yang ditumpanginya. Saking besarnya gelombang, bahkan ia merasa kesulitan berjalan di atas kapal yang besar itu. “Saya mulai berpikir tentang bagaimana cara dan bentuk teknologi untuk memindahkan energi gelombang laut menjadi energi mekanik untuk pembangkit listrik,” tuturnya.

Penasaran mencari bentuk teknologi yang sesuai, Zamrisyaf sering mengamati perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan. Ilham akhirnya datang saat dia melakukan perjalanan dari Padang ke Jakarta naik kapal “Lambelu”, pada awal 2000.

“Dalam perjalanan itu, saya mulai mengamati keadaan sekeliling kapal. Akhirnya mata saya tertuju pada lonceng yang ada di depan kapal. Saya tidak tahu untuk apa lonceng itu,” katanya. Keesokan harinya, dari temannya, baru Zamrisyaf tahu apa kegunaan dari lonceng tersebut. “Teman saya bilang, malam itu gelombang cukup besar. Akibat dari gelombang yang besar itu, bunyi lonceng kapal terdengar. Nah, baru saya tahu bahwa lonceng itu untuk menandakan besarnya gelombang. Itulah kira-kira bentuk teknologi yang saya cari,” kisahnya.

Setelah menemukan bentuk teknologinya, Zamrisyaf mulai melakukan penelitian dan uji coba kecil-kecilan. “Peralatan utama yang diperlukan untuk PLTGL sistem bandulan ini, di samping ponton dan bandul juga perlu dilengkapi dengan bevel-gear dan minimal dua buah one-way bearing (untuk satu bevel-gear), dan peralatan pendukung lainnya, seperti pompa dan motor hidrolik,” jelasnya.

Pengembangan

Menurut Zamrisyaf, pengembangan pembangkit listrik ini cukup memakan waktu lantaran terkendala beberapa hal. “Kesulitan bagi saya yang pertama tentu masalah biaya untuk melakukan penelitian dan uji coba, untuk menemukan teknologi yang cocok untuk mengubah energi gelombang laut jadi energi mekanik, terutama untuk listrik,” ungkapnya. Selain itu, tidak banyak orang, termasuk akademisi, atau lembaga yang paham bahwa penelitian dan uji coba itu masih butuh tahapan-tahapan untuk menyempurnakan hasilnya.

Mengenai pengadaan peralatan untuk membangun PLTGL-SB itu, dia mengaku tidak mengalami kesulitan. Hampir 90 persen teknologi untuk mengembangkan pembangkit listrik ini berasal dari dalam negeri.

“Waktu penelitian dan uji coba lanjutan keempat, saya sempat dibantu oleh GM PLN wilayah Sumbar saat itu, Pak Sudirman. Waktu posisi Pak Sudirman digantikan GM yang baru, oleh GM yang baru itu, kelanjutannya diserahkan ke PLN Litbang di Duren Tiga, Jakarta,” kata Zamrisyaf. Saat ditanya apakah penelitiannya ini didukung oleh PLN, dia menjawab, “Sulit bagi saya menjawabnya karena sejak uji coba pertama sampai ketiga saya menggunakan dana pribadi, dan sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari PLN.”

Kendati demikian, potensi komersial dari pembangkit listrik ini amat jelas, ungkap Zamrisyaf. “Selain ramah lingkungan dan tidak mempergunakan BBM, potensi energi primernya juga banyak tersedia dan menjanjikan. Selain itu, hampir 90 persen peralatan untuk membangun PLTGL sistem bandul menggunakan konten lokal,” penerima penghargaan 100 Inovasi Indonesia 2008 ini memaparkan. Dia sendiri sudah mematenkan penemuannya ini dan berencana untuk mencari sponsor untuk mengkomersialisasikannya.

Gambar: 100 Inovasi Indonesia

29
May
08

Untuk Apa Punya Minyak?

Kamis, 29 Mei 2008 | 00:44 WIB

MT Zen

Dahulu, di zaman Orde Baru, saya masih ingat sekali bahwa setiap kali ada berita tentang turunnya harga minyak di pasaran dunia, Pemerintah Indonesia sudah berkeluh kesah. Pada waktu itu cadangan terbukti Indonesia tercatat 12 miliar barrel.

Kini, pada masa Reformasi ini, lebih khusus lagi selama kekuasaan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, pemerintah juga berteriak, berkeluh-kesah, dan panik apabila harga minyak meningkat di pasaran dunia.

Harga minyak turun berteriak, harga minyak naik lebih berteriak lagi dan panik. Jadi, apa gunanya kita punya minyak, sedangkan Indonesia sejak awal sudah menjadi anggota OPEC? Alangkah tidak masuk akalnya keadaan ini? Sangat kontroversial. Minyak itu tak lain adalah kutukan.

Cadangan tak tersentuh

Hingga kini Indonesia secara resmi disebut masih mempunyai cadangan minyak sebesar 9 miliar barrel. Memang betul, jika dibandingkan dengan cadangan minyak negara-negara Timur Tengah, 9 miliar barrel itu tidak ada artinya. Namun, jelas-jelas Indonesia masih punya minyak. Selain cadangan lama, cadangan blok Cepu belum juga dapat dimanfaatkan. Belum lagi cadangan minyak yang luar biasa besar di lepas pantai barat Aceh.

Perlu diketahui bahwa pada pertengahan tahun 1970-an Indonesia memproduksi 1,5 juta barrel per hari. Yang sangat mencolok dalam industri minyak Indonesia adalah tidak ada kemajuan dalam pengembangan teknologi perminyakan Indonesia sama sekali.

Norwegia pada awal-awal tahun 1980-an mempunyai cadangan minyak yang hampir sama dengan Indonesia. Perbedaannya adalah mereka tidak punya sejarah pengembangan industri minyak seperti Indonesia yang sudah mengembangkan industri perminyakan sejak zaman Hindia Belanda, jadi jauh sebelum Perang Dunia ke-2. Lagi pula semua ladang minyak Norwegia terdapat di lepas pantai di Laut Atlantik Utara. Lingkungannya sangat ganas; angin kencang, arus sangat deras, dan suhu sangat rendah; ombak selalu tinggi.

Teknologi lepas pantai, khusus mengenai perminyakan, mereka ambil alih dari Amerika Serikat hanya dalam waktu 10 tahun. Sesudah 10 tahun tidak ada lagi ahli-ahli Amerika yang bekerja di Norwegia.

Saya berkesempatan bekerja di anjungan lepas pantai Norwegia dan mengunjungi semua anjungan lepas pantai Norwegia itu. Tak seorang ahli Amerika pun yang saya jumpai di sana sekalipun modalnya adalah modal Amerika, terkecuali satu; seorang Indonesia keturunan Tionghoa dari Semarang yang merupakan orang pertama yang menyambut saya begitu terjun dari helikopter dan berpegang pada jala pengaman di landasan. Dia berkata sambil tiarap berpegangan tali jala, ”Saya dari Semarang, Pak.” Dia seorang insinyur di Mobil yang sengaja diterbangkan dari kantor besarnya di daratan Amerika untuk menyambut saya di dek anjungan lepas pantai bernama Stadfyord A di Atlantik Utara.

Di sanalah, dan di anjungan-anjungan lain, saya diceritakan bahwa mereka tidak membutuhkan teknologi dari Amerika lagi. Mereka sudah dapat mandiri dan dalam beberapa hal sudah dapat mengembangkan teknologi baru, terutama dalam pemasangan pipa-pipa gas dan pipa-pipa minyak di dasar lautan. Teknologi kelautan dan teknologi bawah air mereka kuasai betul dan sejak dulu orang-orang Norwegia terkenal sebagai bangsa yang sangat ulet dan pemberani. Mereka keturunan orang Viking.

Ada satu hal yang sangat menarik. Menteri perminyakan Norwegia secara pribadi pernah mengatakan kepada saya bahwa Norwegia dengan menerapkan teknologi enhanced recovery dari Amerika berhasil memperbesar cadangan minyak Norwegia dengan tiga kali lipat tanpa menyentuh kawasan-kawasan baru. Ini sesuatu yang sangat menakjubkan.

Norwegia pernah menawarkan teknologi tersebut kepada Indonesia, tetapi mereka minta konsesi minyak tersendiri dengan persyaratan umum yang sama dengan perusahaan lain. Ini terjadi pada akhir tahun 1980-an. Namun, kita masih terlalu terlena dengan ”kemudahan-kemudahan” yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan Amerika. Pejabat Pertamina tidak mau mendengarkannya. Gro Halem Brundtland, mantan perdana menteri, menceritakan hal yang sama kepada saya.

Contoh lain, lihat Petronas. Lomba Formula 1 di Sirkuit Sepang disponsori oleh Petronas. Petronas itu belajar perminyakan dari Pertamina, tetapi kini jauh lebih kaya dibanding Pertamina. Gedung kembarnya menjulang di Kuala Lumpur. Ironisnya, banyak sekali pemuda/insinyur Indonesia yang bekerja di Petronas.

Kenapa banyak sekali warga Indonesia dapat bekerja dengan baik dan berprestasi di luar negeri, tetapi begitu masuk kembali ke sistem Indonesia tidak dapat berbuat banyak?

Jika kita boleh ”mengutip” Hamlet, dia bekata, ”There is something rotten, not in the Kingdom of Denmark, but here, in the Republic of Indonesia.”

Lengah-terlena

Salah satu kelemahan Indonesia dan kesalahan bangsa kita adalah mempunyai sifat complacency (perkataan ini tidak ada dalam Bahasa Indonesia, cari saja di kamus Indonesia mana pun), sikap semacam lengah-terlena, lupa meningkatkan terus kewaspadaan dan pencapaian sehingga mudah disusul dan dilampaui orang lain.

Lihat perbulutangkisan (contoh Taufik Hidayat). Lihat persepakbolaan Indonesia dan PSSI sekarang. Ketuanya saja meringkuk di bui tetap ngotot tak mau diganti sekalipun sudah ditegur oleh FIFA.

Apa artinya itu semua? Kita, orang Indonesia tidak lagi tahu etika, tidak lagi punya harga diri, dan tidak lagi tahu malu. Titik.

Ketidakmampuan Pertamina mengembangkan teknologi perminyakan merupakan salah satu contoh yang sangat baik tentang bagaimana salah urus suatu industri. Minyak dan gas di Blok Cepu dan Natuna disedot perusahaan-perusahaan asing, sementara negara nyaris tak memperoleh apa pun. Dalam hal ini, Pertamina bukan satu-satunya. Perhatikan benar-benar semua perusahaan BUMN Indonesia yang lain. Komentar lain tidak ada.

MT Zen Guru Besar Emeritus ITB
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/05/29/ 00441957/ untuk.apa. punya.minyak

25
May
08

Belanda Sudah Lama Siapkan Blue Energy (air laut dan air sungai)

Eddi Santosa – detikcom, 23/05/2008 22:42 WIB, Laporan dari Den Haag

Pusat Blue Energy Afsluitdijk dan Prinsip Dasar

Den Haag – Pemerintah Belanda, pusat iptek Wetsus, serta swasta ENECO Energie dan REDstack sudah sejak 2004 menyiapkan blue energy. Tahun ini akan memasuki fase ujicoba.

Surat Hasrat atau Letter of Intent keempat pihak itu diteken tiga tahun kemudian (Desember
2007), di mana mereka sepakat untuk mengembangkan pusat energi listrik dari perbedaan potensi antara air laut (asin) dan air sungai (tawar).

Lokasi yag ditetapkan adalah kawasan berlimpah suplai air di muara Waddenzee dan Afsluitdijk.

Blue energy atau disebut juga Energi Osmotik dapat dilakukan dengan dua metode: Reverse Electrodialysis (RED) dan Pressure Retarded Osmosis (PRO). Belanda lebih memilih metode pertama (RED). Metode ini dipilih karena dinilai lebih menjanjikan untuk pengekstrakan energi dari perbedaan elektrolit antara air laut dan air sungai.

Perbedaan itu –melalui pemisahan membran– menurut Persamaan Nernst besarnya kurang lebih 80mV: (gambar rumus Nernst terlampir).

Perbedaan tegangan yang kecil ini dilipatgandakan dengan kompartemen seri oleh membran-membran yang selektif terhadap anion dan kation sehingga diperoleh tegangan besar untuk energi. Listrik dari Blue Energy ini sangat sustainable, karena tanpa emisi CO2, NOx dan SOx.

Lagi pula bahan bakunya melimpah dan gratis dari alam. Menurut bahan informasi yang diperoleh detikcom dari Wetsus, secara teori air sungai Rijn yang bertemu dengan Laut Utara dapat memasok 6000 megawatt (MW).

Kurang jelas mengapa pusat Blue Energy versi Joko Suprapto memilih lokasi di Cikeas. ( es / es )

Rujukan menarik:
1. blue energy belanda (Wetsus)
http://www.onderzoekinformatie.nl/en/oi/nod/organisatie/ORG1241843/

2. osmotic energy
http://exergy.se/goran/cng/alten/proj/97/o/

3. yang lain:
http://www.jbc.org/cgi/reprint/276/27/25078.pdf
http://www.pnas.org/cgi/reprint/80/14/4577.pdf
http://www.verdexchange.org/node/35

25
May
08

Norwegian oil company to build floating wind turbine

http://news. xinhuanet. com/english/ 2008-05/23/ content_8238110. htm

http://www.chinaview. cn 2008-05-23 19:03:41 Print BEIJING, May 23 (Xinhuanet) —

A Norwegian oil company plans to build next year what it says will be the world’s first full-scale floating wind turbine. State-controlled StatoilHydro ASA, based in the western port of Stavanger, announced it intent Thursday. StatoilHydro is the key producer in the offshore oil industry that makes Norway a major petroleum exporter. The company said the 80 million U.S. dollar pilot project combines its offshore oil experience with advanced technology for wind power. “We have drawn on our offshore expertise from the oil and gas industry to develop wind power offshore,” said Alexandra Bech Gjoerv, head of StatoilHydro’s new energy unit. The 2.3 megawatt windmill will be placed about six miles off the coast of Karmoey, near Stavanger on the west coast. StatoilHydro said it has already signed contracts for the construction of the wind turbine and its floating base. The electricity will be sent to land through underwater cables. Previous ocean windmill projects have been based on towers built onto the seabed near land, rather than floating structures.

However, windmills on land or near the coast often draw complaints they spoil the view and disturb wildlife. Bech Gjoerv said the windmill, with 260-foot blades, will be mounted on top of a giant spar buoy, a floating structure that is six meters in diameter and 100 meters deep. Spar buoys are often used for such things as offshore loading of oil from platforms to tankers. The company said it plans to conduct a two-year test with the unit after it is goes on line in late 2009 in hopes of demonstrating that floating wind power is commercially viable. (Agencies)

14
May
08

Timor Sea gas block a ‘huge’ find

Ika Krismantari, The Jakarta Post, Jakarta

The Masela Timor Sea gas block in East Nusa Tenggara has potential reserves of 10 trillion cubic feet (tcf), the country’s second’s biggest after the Tangguh block in Papua, an official says.

Upstream Oil and Gas Regulator (BPMigas) chairman Priyono said Monday that based on a first drilling trial by block operator Inpex, Japan’s largest oil company, data on available reserves showed a potential “almost as big as the Tangguh gas block”.

Tangguh block in Papua holds a proven gas reserve of 14.4 trillion cubic feet. This block, operated by British oil giant BP, is scheduled for production start-up by the end of 2008.

BPMigas planning deputy Achmad Luthfi said, however, that Inpex had yet to submit its proposal on project development, estimated to cost US$7 billion.

“Inpex’s representative from Japan will come to town tomorrow, to present detailed findings,” Luthfi said.

The Masela project is expected to involve the construction of a floating liquefied natural gas (LNG) processing terminal with a total capacity expected to reach 4 million tons per annum.

This will be the first floating LNG terminal in the country.

The decision to build a floating terminal is viewed more favorably by the government than the alternative option, which is to construct a pipeline to Australia, the closest possibility to the site, BPMigas said recently.

Due to the high cost of the proposed project, Inpex plans to seek partners to build the floating LNG terminal.

When asked about the plan, Luthfi said that a partnership permit would be given to Inpex and that it could decide on the matter under a business-to-business negotiation.

Should the project be approved this year, he said, the block is expected to start production by 2013.

Data from the Directorate General of Oil and Gas shows that so far Inpex has spent US$101.1 million on seismic surveys and drilling tests in the Masela block.

In this light, Priyono was upbeat that Indonesia could get back to its 1970s heyday in terms of gas production capacity.

During the past six years, the country’s gas production has been through a stagnant period with an average production of 8.15 billion cubic feet per day.

Priyono added that there were additional hopes for national gas production based on the Semai block, which is estimated to have probable gas reserves of 1 billion barrels of oil equivalent. The Semai block was offered in the government’s tender of oil and gas blocks last year.

It is reported that a number of oil and gas giants including U.S. Chevron, Exxon and ConocoPhillips, French Total and British Shell and BP are eyeing the Semai block.

The Timor Sea is part of the Indian Ocean situated between the islands of Rote and Timor, with underwater rights now split between Indonesia, Timor Leste and Australia.




June 2017
M T W T F S S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Recent Comments

mustaqim indrawan on Pembangkit Listrik Tenaga Angi…
Deny WS on Pembangkit Listrik Tenaga Angi…
Abdurrahman ibnu uma… on [INFO] Open Source Software…
sinta on Wind Energy Indonesia
rivanroyono on Teknik Fisika (Engineering Phy…

Flickr Photos

JWL8376  Cuckoo..

Chrysis duo

Smoky Mountain Blaze

More Photos

Blog Stats

  • 117,856 hits

where you from

<script language="Javascript" src="http://www.ip2phrase.com/ip2phrase.asp?template=You are browsing our website through ISP .">
Powered by IP2Location.com