Archive for the 'Risk Technology and Management' Category

27
Jan
09

Floating LNG plant off Indonesia to cost less

LOS ANGELES, Jan. 26 — The cost of a proposed floating LNG plant in Indonesia’s Timor Sea would be around $10 billion-about half an earlier government estimate-due to lower infrastructure costs, according to Inpex Holdings Inc., the project’s developer. “We expect [a figure of] around $10 billion,” said Shunichiro Sugaya, Inpex senior general manager of the Masela project, explaining that the price of steel is going down with the price of oil and that “reflects the lower price, lower capex (capital expenditure) .” Earlier this month, Indonesia tentatively agreed to Inpex’s proposal for the construction of a floating LNG plant, intended primarily for use at Abadi natural gas field in the Timor Sea. “In principle we have agreed to [the] Inpex proposal, but we are still evaluating the economic value of the project,” said Evita Legowo, director general of oil and gas at the Indonesian energy ministry (OGJ Online, Jan. 11, 2009).

Snøvhit, the world’s first all-electric LNG plant, was shipped from Spain to northern Norway.

Snøvhit, the world’s first all-electric LNG plant, was shipped from Spain to northern Norway.

Inpex Corp. currently is the sole operator of Abadi gas field on the Masela Block in eastern Indonesia, but reports surfaced earlier this month that Royal Dutch Shell was considering taking part in the project. At the time, Inpex said it would not rule out the possibility of inviting companies to take part in the project, but it had not yet held any talks with any company about selling stakes. “Since this is a big project, many people are interested. But we are not looking for partners for the time being,” said Kazuya Honda, Inpex’s public relations group manager. “Partnering with other companies in energy projects is common practice in the industry,” and there is a possibility that “Inpex would partner with somebody if we think it’s necessary to diversify risks,” he added. However Inpex has not decided whether to look for other companies to join the project, according to Sugaya. “We have not yet decided (on) any farm-out policy now,” he said, adding that under the production-sharing contract there is 10% participation for Indonesia and 90% for Inpex. The Japanese firm estimates there is more than 10 tcf of gas reserves in Abadi field, which-if confirmed-would make the project the second-biggest new gas field after the Tangguh project in Papua, which has combined reserves of 14.4 tcf. Inpex plans to construct one LNG train having a capacity of 4.5 million tonnes/year, with production to begin in 2016. Japanese buyers constitute the main market for the LNG, while the Indonesian government also wants some supply for its domestic market, said Sugaya.

Contact Eric Watkins at hippalus@yahoo. com.

http://www.ogj. com/display_ article/351435/ 7/ARTCL/none/ none/Floating- LNG -plant-off-Indonesi a-to-cost- less/?dcmp= OGJ.Daily. Update

Advertisements
07
May
08

Harga Minyak Bisa Tembus 140 Dollar AS

Harga Minyak Bisa Tembus 140 Dollar AS
Pemerintah Harus Lakukan Enam Langkah Konkret
Senin, 28 April 2008 | 01:05 WIB

Jakarta, Kompas – Pemerintah diperingatkan bahwa harga minyak mentah di pasar dunia bisa menembus 140 dollar AS per barrel pada akhir 2008. Ini karena ada potensi melemahnya nilai dollar AS terhadap mata uang asing lain, faktor geopolitik, dan kapasitas produksi minyak Arab Saudi yang tidak signifikan.

Pengamat perminyakan Kurtubi mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Minggu (27/4).

Menurut catatan Kompas, harga minyak dunia terus melejit sejak Oktober 2007. Setelah menembus 100 dollar AS per barrel pada akhir Februari 2008, harga emas hitam ini terus mendaki. Jumat pekan lalu, harga minyak dunia mendekati 120 dollar AS per barrel. Harga ini dipicu oleh insiden penembakan dua kapal Iran di Teluk Persia oleh kapal Amerika Serikat.

Hari Minggu, sebanyak 1.200 pekerja penyulingan minyak Grangemouth, Skotlandia, memulai pemogokan massal terkait tuntutan soal pensiun. Penyulingan Grangemouth memasok lebih dari 40 persen kebutuhan minyak seluruh Inggris.

Menurut Reuters, pemogokan ini juga membuat jaringan pipa Forties yang memasok 700.000 barrel minyak dari Laut Utara ke Inggris dan pasar dunia berhenti beroperasi. Kurtubi menjelaskan, fundamental pasar minyak dunia yang sudah ketat, ditambah problem teknis dari hulu sampai hilir seperti yang terjadi pada kilang Grangemouth, akan semakin mendongkrak harga minyak.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Kurtubi berpendapat, pemerintah harus melakukan enam langkah konkret.

Pertama, segera menaikkan produksi minyak mentah. Janji kepala BP Migas untuk memproduksi di atas satu juta barrel per hari perlu segera direalisasikan.

Kedua, pemerintah harus mengefisiensikan pembayaran biaya operasional kontraktor migas yang dibebankan kepada negara (cost recovery). Ini artinya harus segera menindaklanjuti temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyangkut pengadaan barang dan jasa.

Ketiga, tuntaskan konversi premium ke bahan bakar gas (BBG) untuk semua angkutan umum dan kendaraan pemerintah. Pada saat yang sama selesaikan konversi minyak tanah ke elpiji sebesar 2 juta kiloliter.

Keempat, kaji kemungkinan pajak atas keuntungan yang diperoleh dari tambahan penerimaan akibat kenaikan harga minyak mentah (windfall profit tax) yang diterima 42 kontraktor migas. Kelima, awasi pelaksanaan kartu kendali (smart card).

”Langkah keenam, pemerintah menaikkan harga BBM maksimal 30 persen,” ujar Kurtubi.

Jika harga minyak mentah dunia melonjak ke angka 140 dollar AS per barrel, pemerintah akan dihadapkan pada tekanan berat akibat membengkaknya subsidi BBM. Ini mungkin terjadi jika realisasi produksi minyak mentah dalam negeri (lifting) tidak mencapai sasaran, yakni 927.000 barrel per hari.

Harga minyak di pasar dunia merupakan basis perhitungan harga minyak yang diimpor Pertamina, dan tercatat sebagai pengeluaran migas. Adapun lifting merupakan basis perhitungan penerimaan migas di APBN.

Jika penerimaan migas lebih kecil daripada pengeluaran migas, maka perlu tambahan anggaran subsidi. Saat ini anggaran pengaman untuk menutup subsidi BBM yang melonjak mencapai Rp 9,3 triliun. Namun, jika harga minyak terus naik, bantalan pengaman bisa membengkak di atas Rp 9,3 triliun. Jika bantalan itu tidak disediakan, pemerintah harus mengurangi subsidi BBM, yang berarti menaikkan harga BBM.

Dirjen Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan Herry Purnomo menjelaskan, anggaran subsidi BBM yang ada di kas negara secara riil belum digunakan. Itu disebabkan mekanisme pembayaran subsidi BBM masih harus diperhitungkan dengan Pertamina.

Total subsidi BBM dalam APBN Perubahan 2008 mencapai Rp 126 triliun. Melonjak dari alokasi awal di APBN 2008 sebesar Rp 45 triliun. (OIN/JOY)

sumber :

http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/04/28/01055375/harga.minyak.bisa.tembus.140.dollar.as




October 2017
M T W T F S S
« Mar    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Recent Comments

mustaqim indrawan on Pembangkit Listrik Tenaga Angi…
Deny WS on Pembangkit Listrik Tenaga Angi…
Abdurrahman ibnu uma… on [INFO] Open Source Software…
sinta on Wind Energy Indonesia
rivanroyono on Teknik Fisika (Engineering Phy…

Flickr Photos

Blog Stats

  • 120,652 hits

where you from

<script language="Javascript" src="http://www.ip2phrase.com/ip2phrase.asp?template=You are browsing our website through ISP .">
Powered by IP2Location.com