Archive for the 'Renewable Energy' Category

02
Nov
08

Menyulap Gelombang Laut jadi Energi Listrik

Oleh: Restituta Ajeng Arjanti

Alam menyediakan banyak sumber daya yang bisa diolah menjadi energi alternatif. Gelombang air laut termasuk salah satunya. Memanfaatkan sumber daya alam tersebut, Zamrisyaf, salah satu staf perencanaan PLN di wilayah Sumatera Barat, mengembangkan sebuah pembangkit listrik.


Memanfaatkan Sistem Bandul

Pembangkit listrik yang digagas Zamrisyaf dibuat dengan memanfaatkan tenaga gelombang laut dan sistem bandulan. Rancang bangunnya berbentuk ponton, sampan yang rendah dan lebar, yang ditempatkan mengapung di atas permukaan air laut.

Konsep pembangkit listrik tenaga gelombang laut sistem bandulan (PLTGL-SB) ini sebenarnya sederhana. Gerakan air laut akan menggerakkan ponton sesuai dengan alur dan fluktuasi gelombang air laut. Gerakan ponton akibat fluktuasi gelombang laut itu akan membuat bandul-bandul yang ada di dalamnya ikut bergoyang seperti lonceng. Gerakan bandul tersebut, kata Zamrisyaf, akan ditransmisikan menjadi gerakan putar untuk memutar dinamo. Dari situlah, selanjutnya PLTGL-SB bisa menghasilkan energi listrik.

Idealnya, PLTGL-SB dibangun di perairan yang memiliki potensi gelombang laut. Penempatannya, menurut Zamrisyaf, kurang lebih kurang 500-1000 meter dari bibir pantai. Ia menambahkan, seluruh peralatan penggerak, mulai dari bandul sampai dinamo, dipasang dan ditempatkan di dalam ponton. Dengan begitu, selain ponton, tidak ada satupun peralatan utama yang terkena air laut.

Kelebihan

Pembangkit listrik tenaga gelombang laut dengan sistem bandul ini punya beberapa kelebihan. Yang pertama, teknologinya sangat akrab dan ramah lingkungan. “Di samping tidak menggunakan bahan bakar minyak, dalam penempatan pembangkit ini tak ada lahan yang perlu dimodifikasi. Jadi, tidak merusak lahan,” papar Zamrisyaf. Bahkan, tambahnya, teknologi ini bisa mengatasi abrasi pantai karena energi gelombang laut yang akan menghantam pantai diambil oleh pembangkit untuk dijadikan energi listrik.

Kelebihan lainnya, dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga gelombang laut lainnya yang umum diproduksi di luar negeri, misalnya yang memanfaatkan temperatur, arus, atau tekanan air laut; PLTGL sistem bandulan ini lebih aman dari kemungkinan rusak akibat air laut. Alasannya, tak ada satupun peralatan utamanya yang terkena air laut, kecuali ponton. Karena itulah, kata Zamrisyaf, pembangkit listrik yang menjanjikan kapasitas daya sekitar 500kW per unit ini cocok untuk diterapkan di daerah kepulauan seperti Indonesia.

Terinspirasi Lonceng Kapal

Zamrisyaf mengaku sudah tertarik dengan energi gelombang air lalu sejak akhir tahun 1990. Ceritanya dimulai saat dia, dalam perjalan pulang ke Padang dari kepulauan Mentawai, merasakan gelombang laut mengombang-ambingkan kapal yang ditumpanginya. Saking besarnya gelombang, bahkan ia merasa kesulitan berjalan di atas kapal yang besar itu. “Saya mulai berpikir tentang bagaimana cara dan bentuk teknologi untuk memindahkan energi gelombang laut menjadi energi mekanik untuk pembangkit listrik,” tuturnya.

Penasaran mencari bentuk teknologi yang sesuai, Zamrisyaf sering mengamati perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan. Ilham akhirnya datang saat dia melakukan perjalanan dari Padang ke Jakarta naik kapal “Lambelu”, pada awal 2000.

“Dalam perjalanan itu, saya mulai mengamati keadaan sekeliling kapal. Akhirnya mata saya tertuju pada lonceng yang ada di depan kapal. Saya tidak tahu untuk apa lonceng itu,” katanya. Keesokan harinya, dari temannya, baru Zamrisyaf tahu apa kegunaan dari lonceng tersebut. “Teman saya bilang, malam itu gelombang cukup besar. Akibat dari gelombang yang besar itu, bunyi lonceng kapal terdengar. Nah, baru saya tahu bahwa lonceng itu untuk menandakan besarnya gelombang. Itulah kira-kira bentuk teknologi yang saya cari,” kisahnya.

Setelah menemukan bentuk teknologinya, Zamrisyaf mulai melakukan penelitian dan uji coba kecil-kecilan. “Peralatan utama yang diperlukan untuk PLTGL sistem bandulan ini, di samping ponton dan bandul juga perlu dilengkapi dengan bevel-gear dan minimal dua buah one-way bearing (untuk satu bevel-gear), dan peralatan pendukung lainnya, seperti pompa dan motor hidrolik,” jelasnya.

Pengembangan

Menurut Zamrisyaf, pengembangan pembangkit listrik ini cukup memakan waktu lantaran terkendala beberapa hal. “Kesulitan bagi saya yang pertama tentu masalah biaya untuk melakukan penelitian dan uji coba, untuk menemukan teknologi yang cocok untuk mengubah energi gelombang laut jadi energi mekanik, terutama untuk listrik,” ungkapnya. Selain itu, tidak banyak orang, termasuk akademisi, atau lembaga yang paham bahwa penelitian dan uji coba itu masih butuh tahapan-tahapan untuk menyempurnakan hasilnya.

Mengenai pengadaan peralatan untuk membangun PLTGL-SB itu, dia mengaku tidak mengalami kesulitan. Hampir 90 persen teknologi untuk mengembangkan pembangkit listrik ini berasal dari dalam negeri.

“Waktu penelitian dan uji coba lanjutan keempat, saya sempat dibantu oleh GM PLN wilayah Sumbar saat itu, Pak Sudirman. Waktu posisi Pak Sudirman digantikan GM yang baru, oleh GM yang baru itu, kelanjutannya diserahkan ke PLN Litbang di Duren Tiga, Jakarta,” kata Zamrisyaf. Saat ditanya apakah penelitiannya ini didukung oleh PLN, dia menjawab, “Sulit bagi saya menjawabnya karena sejak uji coba pertama sampai ketiga saya menggunakan dana pribadi, dan sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari PLN.”

Kendati demikian, potensi komersial dari pembangkit listrik ini amat jelas, ungkap Zamrisyaf. “Selain ramah lingkungan dan tidak mempergunakan BBM, potensi energi primernya juga banyak tersedia dan menjanjikan. Selain itu, hampir 90 persen peralatan untuk membangun PLTGL sistem bandul menggunakan konten lokal,” penerima penghargaan 100 Inovasi Indonesia 2008 ini memaparkan. Dia sendiri sudah mematenkan penemuannya ini dan berencana untuk mencari sponsor untuk mengkomersialisasikannya.

Gambar: 100 Inovasi Indonesia

25
May
08

Belanda Sudah Lama Siapkan Blue Energy (air laut dan air sungai)

Eddi Santosa – detikcom, 23/05/2008 22:42 WIB, Laporan dari Den Haag

Pusat Blue Energy Afsluitdijk dan Prinsip Dasar

Den Haag – Pemerintah Belanda, pusat iptek Wetsus, serta swasta ENECO Energie dan REDstack sudah sejak 2004 menyiapkan blue energy. Tahun ini akan memasuki fase ujicoba.

Surat Hasrat atau Letter of Intent keempat pihak itu diteken tiga tahun kemudian (Desember
2007), di mana mereka sepakat untuk mengembangkan pusat energi listrik dari perbedaan potensi antara air laut (asin) dan air sungai (tawar).

Lokasi yag ditetapkan adalah kawasan berlimpah suplai air di muara Waddenzee dan Afsluitdijk.

Blue energy atau disebut juga Energi Osmotik dapat dilakukan dengan dua metode: Reverse Electrodialysis (RED) dan Pressure Retarded Osmosis (PRO). Belanda lebih memilih metode pertama (RED). Metode ini dipilih karena dinilai lebih menjanjikan untuk pengekstrakan energi dari perbedaan elektrolit antara air laut dan air sungai.

Perbedaan itu –melalui pemisahan membran– menurut Persamaan Nernst besarnya kurang lebih 80mV: (gambar rumus Nernst terlampir).

Perbedaan tegangan yang kecil ini dilipatgandakan dengan kompartemen seri oleh membran-membran yang selektif terhadap anion dan kation sehingga diperoleh tegangan besar untuk energi. Listrik dari Blue Energy ini sangat sustainable, karena tanpa emisi CO2, NOx dan SOx.

Lagi pula bahan bakunya melimpah dan gratis dari alam. Menurut bahan informasi yang diperoleh detikcom dari Wetsus, secara teori air sungai Rijn yang bertemu dengan Laut Utara dapat memasok 6000 megawatt (MW).

Kurang jelas mengapa pusat Blue Energy versi Joko Suprapto memilih lokasi di Cikeas. ( es / es )

Rujukan menarik:
1. blue energy belanda (Wetsus)
http://www.onderzoekinformatie.nl/en/oi/nod/organisatie/ORG1241843/
http://www.youtube.com/watch?v=X2BtdtvLrjk

2. osmotic energy
http://exergy.se/goran/cng/alten/proj/97/o/

3. yang lain:
http://www.jbc.org/cgi/reprint/276/27/25078.pdf
http://www.pnas.org/cgi/reprint/80/14/4577.pdf
http://www.verdexchange.org/node/35

25
May
08

Norwegian oil company to build floating wind turbine

http://news. xinhuanet. com/english/ 2008-05/23/ content_8238110. htm

www.chinaview. cn 2008-05-23 19:03:41 Print BEIJING, May 23 (Xinhuanet) –

A Norwegian oil company plans to build next year what it says will be the world’s first full-scale floating wind turbine. State-controlled StatoilHydro ASA, based in the western port of Stavanger, announced it intent Thursday. StatoilHydro is the key producer in the offshore oil industry that makes Norway a major petroleum exporter. The company said the 80 million U.S. dollar pilot project combines its offshore oil experience with advanced technology for wind power. “We have drawn on our offshore expertise from the oil and gas industry to develop wind power offshore,” said Alexandra Bech Gjoerv, head of StatoilHydro’s new energy unit. The 2.3 megawatt windmill will be placed about six miles off the coast of Karmoey, near Stavanger on the west coast. StatoilHydro said it has already signed contracts for the construction of the wind turbine and its floating base. The electricity will be sent to land through underwater cables. Previous ocean windmill projects have been based on towers built onto the seabed near land, rather than floating structures.

However, windmills on land or near the coast often draw complaints they spoil the view and disturb wildlife. Bech Gjoerv said the windmill, with 260-foot blades, will be mounted on top of a giant spar buoy, a floating structure that is six meters in diameter and 100 meters deep. Spar buoys are often used for such things as offshore loading of oil from platforms to tankers. The company said it plans to conduct a two-year test with the unit after it is goes on line in late 2009 in hopes of demonstrating that floating wind power is commercially viable. (Agencies)

11
May
08

lovely TV Ad

09
May
08

Wind Energy Indonesia

Background

Wind is a form of solar energy. The uneven heating of the atmosphere by the sun, the irregularities of the earth’s surface, and rotation of the earth cause winds. Wind flow patterns are modified by the earth’s terrain, bodies of water, and vegetation. Humankind uses this wind flow, or motion energy, for many purposes, to name a few: flying a kite/zeppelin, sailing, grinding grain, pumping water, and even generating electricity.

The terms wind energy or wind power describe the process by which the wind is used to generate mechanical power or electricity. Wind turbines convert the kinetic energy in the wind into mechanical power. This mechanical power can be used for specific tasks (such as grinding grain or pumping water) or a generator can convert this mechanical power into electricity.

A wind turbine works the opposite of a fan. Instead of using electricity to make wind, like a fan, wind turbines use wind to make electricity. The wind turns the blades, which spin a shaft, which connects to a generator and makes electricity. Large and modern wind turbines operate together in wind farms to produce electricity for utilities, while homeowners and remote villages, to help meet their energy needs, use small turbines.

Indonesia has relatively available potential site for wind energy utilization, but its utilization is still low. Currently, research and efforts are continuously conducted to open the possibilities of increasing the wind energy utilization.

Advantages/Disadvantages of Wind Energy

Despite its disadvantages, wind energy offers many advantages, which explains why it’s the fastest-growing energy source in the world. Research efforts are aimed at addressing the challenges to larger use of wind energy.

Advantages
Because wind energy is fueled by the wind, a clean fuel source, it makes wind energy a clean energy. Wind energy does not pollute the air like common power plants that rely on combustion of fossil fuels, such as coal or natural gas. Wind turbines do not produce harmful emissions that cause acid rain or greenhouse gasses, so it is environmentally friendly.
Wind energy is a domestic source of energy, produced in the Indonesia . The nation’s wind supply is relatively available (especially in the eastern part).
Wind energy relies on the renewable power of the wind, which cannot be used up. As already mentioned, wind is actually a form of solar energy.
Nowadays, wind energy is one of the lowest-priced renewable energy technologies available. Depending upon the wind resource and project financing of the particular project, wind energy cost less than 6 cents USD per kilowatt-hour (for potential site with wind speed > 5 m/s or offshore).
Wind turbines can be constructed on farms or ranches, thus benefiting the economy in rural areas, where most of the best wind sites are found. Farmers and ranchers can continue to work the land because the wind turbines use only a fraction of the land. Wind power plant owners make rent payments to the farmer or rancher for the use of the land.

Disadvantages
Wind power must compete with conventional generation sources on a cost basis. Depending on how energetic a wind site is, the wind farm may or may not be cost competitive. Even though the cost of wind power has decreased dramatically in the past 10 years, the technology requires a higher initial investment than fossil-fueled generators (and even other renewable based generators).
The major challenge to using wind as a source of power is that the wind is intermittent and it does not always blow when electricity is needed. Wind energy cannot be stored (unless batteries are used); and not all winds can be harnessed to meet the timing of electricity demands.
Suitable wind sites are often located in remote locations, far from cities where the electricity is needed.
Wind resource development may compete with other uses for the land and those alternative uses may be more highly valued than electricity generation.
Although wind power plants have relatively small impact on the environment compared to other conventional power plants, there is some concern over the noise produced by the rotor blades, aesthetic (visual) impacts, and sometimes birds have been killed by flying into the rotors. Most of these problems have been resolved or greatly reduced through technological development or by properly siting wind plants.

General Condition in Indonesia
Wind energy development is part of national energy program in order to realize a sustainable supply and utilization of energy.

There are some potential locations in the country for wind energy utilization.
Installed capacity for wind power is relatively still small compared to its potential.
Wind Energy Potential in Indonesia

Wind energy potential in Indonesia quite varies and could be classified into three categories, namely:
small-scale utilization, with wind speed of 2.5 – 4 m/s and capacity up to 10 kW;
medium-scale utilization, with wind speed of 4 – 5 m/s and capacity of 10 – 100 kW;
large-scale utilization, with wind speed and capacity higher than 5 m/s and 100 kW, respectively.

Recorded and measured wind data are as follow:
Region of Nusa Tenggara Barat: wind speed ranging from 3.4 – 5.3 m/s (10 locations);
Region of Nusa Tenggara Timur: wind speed ranging from 3.2 – 6.5 m/s (10 locations);
Region of Sulawesi and other: wind speed ranging from 2.6 – 4.9 m/s (10 locations).

Detail data* of each region is tabulated below.

* Data is properties of National Institute for Aeronautics and Space ( LAPAN).

National Wind Energy Technology

Generally speaking, US / Europe wind turbines available in the market are usually designed for high wind speed application which is not quite appropriate for wind condition in Indonesia . Meanwhile, there are some wind turbines, which might be appropriate to be used in the country. Therefore, development of wind energy technologies in Indonesia is widely opened. Currently, wind energy technologies developed in the country are designs and prototypes for:
power plants with capacity of 50 – 10,000 W;
mechanical power pumping with capacity of 45 – 250 liters/min;
power plants with capacity of 3.5 kW coupled with electrical pump for water pumping.

National Fabrication Capability

In general, status of national fabrication for wind energy conversion system is:
small-scale utilization: national industry has already able to built wind energy conversion system components up to 5 kW capacity and they are ready for mass production if the market available;
medium and large scale utilization: still under development.

Application

Testing, information dissemination, and direct utilization of wind energy for various applications, to wit: lighting, battery charging, radio communication, television, radio, home industry, telecommunication, water pumping.

List of Companies Working on Wind Energy

Below are list of companies involved in wind energy development in Indonesia . To name a few:
PT Indonesia Power
PT PLN-JE
PT Bumi Energi Equatorial
Obayashi Corporation
PT Guna Elektro
PT Indokomas Buana Perkasa
PT Citrakaton Dwitama.

Supporting Facilities

To support wind energy development, the country already has various facilities:
wind potential measurement equipments;
wind energy conversion system laboratory;
field-testing laboratory;
aerodynamic laboratory – subsonic speed.

Barriers

Below are several barriers encountered for wind energy development in the country, viz.:
technical and financial difficulties in data access for input on establishment of wind potential map;
limited fund to access and identify potential location especially in islands and remote areas;
relatively high price for wind energy compared to fossil based energy;

available wind energy products (usually for high speed application) are not suitable for the country’s application (low speed).

source : http://www.energiterbarukan.net/index.php?option=com_content&task=view&id=37

09
May
08

Energi Tidal (Pasang Surut)

Energi tidal atau energi pasang surut barangkali kurang begitu dikenal dibandingkan dengan energi samudera yang lain seperti energi ombak (wave energy). Jika dibandingkan dengan energi angin dan surya, energi tidal memiliki sejumlah keunggulan antara lain: memiliki aliran energi yang lebih pasti/mudah diprediksi, lebih hemat ruang dan tidak membutuhkan teknologi konversi yang rumit. Kelemahan energi ini diantaranya adalah membutuhkan alat konversi yang handal yang mampu bertahan dengan kondisi lingkungan laut yang keras yang disebabkan antara lain oleh tingginya tingkat korosi dan kuatnya arus laut.

Saat ini baru beberapa negara yang yang sudah melakukan penelitian secara serius dalam bidang energi tidal, diantaranya Inggris dan Norwegia. Di Norwegia, pengembangan energi ini dimotori oleh Statkraft, perusahaan pembangkit listrik terbesar di negara tersebut. Statkraft bahkan memperkirakan energi tidal akan menjadi sumber energi terbarukan yang siap masuk tahap komersial berikutnya di Norwegia setelah energi hidro dan angin. Keterlibatan perusahaan listrik besar seperti Statkraft mengindikasikan bahwa energi tidal memang layak diperhitungkan baik secara teknologi maupun ekonomis sebagai salah satu solusi pemenuhan kebutuhan energi dalam waktu dekat.

sumber : http://www.statkraft.com/Images/MORILD1_tcm4-5357.jpg

Pembangkit listrik tenaga tidal terapung. Turbin-turbin air dan mesin-mesin listrik terletak di bawah air, hanya bagian atas dari pembangkit listrik tersebut yang tampak diatas permukaan laut (Sumber: Statkraft)

Perlu diketahui bahwa potensi energi tidal di Indonesia termasuk yang terbesar di dunia, khususnya di perairan timur Indonesia. Sekarang inilah saatnya bagi Indonesia untuk mulai menggarap energi ini. Jika bangsa kita mampu memanfaatkan dan menguasai teknologi pemanfaatan energi tidal, ada dua keuntungan yang bisa diperoleh yaitu, pertama, keuntungan pemanfaatan energi tidal sebagai solusi pemenuhan kebutuhan energi nasional dan, kedua, kita akan menjadi negara yang mampu menjual teknologi tidal yang memberikan kontribusi terhadap devisa negara. Belajar dari India yang mampu menjadi salah satu pemain teknologi turbin angin dunia (dengan produk turbin angin Suzlon), maka tujuan yang kedua bukanlah hal yang terlalu muluk untuk kita wujudkan.

_________________________________
Sumber: www.engineering-center.net

09
May
08

Energi Listrik Tenaga Ombak

Senin,02 Juli 2007 15:02
Potensi energi terbarukan untuk menjawab kebutuhan energi listrik
Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua setelah Norwegia. Sayangnya potensi energi pantai yang ada belum banyak dimanfaatkan. hal ini membuat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tergerak mengembnagkan dan memanfaatkan potensi energi terbarukan, berupa angin, omba dan energi surya untuk menjawab kebutuhan energi listrik.

Model yang dikembnagkan di Parang Racuk Technopark untuk menjawab tantangan itu, kita membuka ilmuan dari berbagai bidang di Indonesia memanfaatkan kawasan sesuai minatnya, ini yang pertama di Indonesia, kata Kepala BPPT Said D Jenie kepada Jurnal Nasional di Yogyakarta, Jumat (22/6)

Di kawasan seluas 12 hektare yang ada disepanjang pantai itu kini telah hadir beberapa perangkat teknologi pembangkit listrik terbarukan yaitu Oscillating Water Column (OWC) dengan biaya pengembangan Rp2,5 miliar yang mengubah energi ombak menjaaadi energi listrik. Selain itu telah terpasang juga pembangkit tenaga bayu (angin) berupa kincir angin serta panel sel surya untuk mengolah energi listrik dari matahari.

Di tahap awal memang dikembangkan model fix based, ke floating base yang ada di perairan. secara bertahap akan terus dilanjutkan proyek pwemhembangan pemanfaatan energi alternatif yang ramah lingkungan, ujar Said melanjutkan.

Energi Persilangan
Melengkapi faasilitas penyimpanan energi listrik yang dibangkitkan dari tenaga ombak, angin dan srya disediakan pula sistem pengendali beban otomatis berbasis DC dengan kapasitas 3599 kW.

Sistem energi persilangan (hybrid) itu telah diujicobakan dan dapat bekerja dengan optimal, meski pasokan energi sangat teergantung dari kondisi alam yaitu ada atau tidaknya ombak ataupun angin yang mencukupi untuk sumber energi pembnagkit listrik.

Sistem pengendali beban diperlukan setelah ada konversi sebelum listrik dimanfaatkan oleh konsumen, kata Dr Erzi Agson Gani Meng, Kepala Divisi Mesin Perkakas, Teknik, Produksi dan Otomatisasi (MEPPO) BPPT.

Sejak tahun 2005 telah ada upaya pemanfaatan energi terbarukan seperti ombak, angin dan energi surya yang ditangkap panel surya untuk memnuhi kebutuhan energi listrik. Meski hasilnya masih terbatas, karena perlu pengembangan lebih lanjut teknologi yang disebutkan cocok untuk pasokan listrik di daerah terpencil atau sbagai bagian daari sumber daya rambu navigasi.

Di luar itu, dapat juga menjadi wisata teknologi energi dan riset dari akademisi dan lembaga litbang lainnya. Itu menjadi sumber energi bersih yang potensial di masa depan, kata Erzi.

Bagi masyarakat Gunung Kidul, hadirnya taman teknologi yang memanfaatkan tanah Sultan (Aultan Ground) tentu saja menjadikan keuntungan tersendiri. Jika selama ini hanya mengandalkan wisata pantai, ke depan pengembangan teknologi itu jelas akan memancing hadirnya rekayasa baru yang dapat memanfaatkan potnsi alam di kawasan pesisir pantai.

Guning Kidul itu sudah dikenal dengan kondisi alam yang kering, tepi memiliki sumber daya alan di pesisir pantai yang belum dikembangkan. Hadirnya teknologi untuk energi tebarukan membantu pengembangan di kawasan pantai, kata Bupati Gunungkidul Suharto, SH.

Setidaknya dengan hadirnya teknologi energi terbarukan dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik di kawasan yang selama ini sulit dijangkau aliran listrik PLN dengan alasan ekonomi dan efisiensi.

Kita punya potensi alam saja, itu pun dnegan kondisi yang cukup berat bagi upaya mengundang investor. Jika ada teknologi yang masuk jelas membantu kebutuhan energi wrga, kata Suharto.

Oscillating Water Column (OWC) 500 KW ombak pantai Pantai Parang Rucuk Tanjungsari Gunung Kidul Teknologi ini dikembangkan Balai Pengkajian Dinamika Pantai BPPT (Kompas)

Efek Tekanan Udara
Energi ombak adalah energi alterbatif yang dibangkitkan melalui efek osilasi tekanan udara (pumping efect) di dalam banunan chamber (geometri kolom) akibat fluktuasi pergerakan gelombang yang masuk ke dalam chamber.

Berkaitan dengan hal tersebut pada 22 Juni 2007 bertempat di Parang Racuk Yogyakarta telah diresmikan Technopark Parang racuk melalui Uji Operasional PLTO (Pembangkit Listrik Tenaga Ombak) pada Konsi Air Pasang oleh Kepla BPPT Said D Jenie.

Acara yang dihadiri Sekretaris Utama, Deputi TIRBR, Deputi TPSA, Deputi TAB, Eselon II di lingkungan Setama dan Eselon I, II, III di lingkungan TIRBR, dan Bupati Gunung Kidul, Staf Ahli Kepala BPPT serta pimpinan dan peneliti dari BPDP Yogyakarta.

Tujuan kegiatan ini untuk memberikan paket model sumber energi alternatif yang ketersediaan sumbernya cukup melimpah di wilayah perairan pantai Indonesia.

paket model tersebut akan menunjukan tingkat efisiensi energi yang dihasilkan dan parameter-parameter minimal hiroosenografi yang layak, baik itu secara teknis maupun ekonomis untuk melakukan konversi energi.

Hasil survey hidroosenografi di wilayah perairan Parang Racuk menunjukan, sistem akan dapat membangkitkan daya listrik optimal jika ditempatkan sebelum gelombang pecah atau pada kedalaman 4 m-11 m.

Pada kondisi ini akan dapat dicapai putaran turbin antara 3000-700 rpm. Posisi prototipe II OWC (Oscillating Wave Column) masih belum mencapai minimal yang diisyaraatkan, karena kesulitan pelaksanaan operasional alat mekanis. Posisi ideal akan dicapai melalui pembangunan prototipe III yang berupa sistem OWC apung.

Khusus untuk pengembnagan energi angin, BPPT melakukan kajian tehadap tipe-tipe konversi energi angin yang efisien dan tepat diterapkan di Indonesia sesuai kegunaannya: mekanikal ataupun kelistrikan.

Kegiatan ini dimulai pada tahun 2005 dan menghasilkan Sistem Pengandali Berbasis DC dengan kapasitas 3500 KW.

Sistem tersebut telah dipasang di Baron Energy park-BPPT dan Parang Racuk yang siap diuji coba (OT&E) bersama UPT LAGG yang mengemangkan wind turbine serta BPDP yang mengembangkan sistem OWC. (Jurnal Nasional / Humas Ristek)
sumber : http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=1961

09
May
08

Overview of Biofuel Technologies for Indonesia

03
May
08

Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Indonesia

Angin adalah salah satu bentuk energi yang tersedia di alam, Pembangkit Listrik Tenaga Angin mengkonversikan energi angin menjadi energi listrik dengan menggunakan turbin angin atau kincir angin. Cara kerjanya cukup sederhana, energi angin yang memutar turbin angin, diteruskan untuk memutar rotor pada generator dibagian belakang turbin angin, sehingga akan menghasilkan energi listrik. Energi Listrik ini biasanya akan disimpan kedalam baterai sebelum dapat dimanfaatkan. Secara sederhana sketsa kincir angin adalah sebagai berikut :

sumber : http://www.kincirangin.info/plta-gbr.php

Indonesia, negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42 Km merupakan wilayah potensial untuk pengembangan pembanglit listrik tenaga angin, namun sayang potensi ini nampaknya belum dilirik oleh pemerintah. Sungguh ironis, disaat Indonesia menjadi tuan rumah konfrensi dunia mengenai pemanasan global di Nusa Dua, Bali pada akhir tahun 2007, pemerintah justru akan membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang merupakan penyebab nomor 1 pemanasan global.

Syarat – syarat dan kondisi angin yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik dapat dilihat pada tabel berikut.

Angin kelas 3 adalah batas minimum dan angin kelas 8 adalah batas maksimum energi angin yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.

Pemanfaatan energi angin merupakan pemanfaatan energi terbarukan yang paling berkembang saat ini. Berdasarkan data dari WWEA (World Wind Energy Association), sampai dengan tahun 2007 perkiraan energi listrik yang dihasilkan oleh turbin angin mencapai 93.85 GigaWatts, menghasilkan lebih dari 1% dari total kelistrikan secara global. Amerika, Spanyol dan China merupakan negara terdepan dalam pemanfaatan energi angin. Diharapkan pada tahun 2010 total kapasitas pembangkit listrik tenaga angin secara glogal mencapai 170 GigaWatt.

Di tengah potensi angin melimpah di kawasan pesisir Indonesia, total kapasitas terpasang dalam sistem konversi energi angin saat ini kurang dari 800 kilowatt. Di seluruh Indonesia, lima unit kincir angin pembangkit berkapasitas masing-masing 80 kilowatt (kW) sudah dibangun. Tahun 2007, tujuh unit dengan kapasitas sama menyusul dibangun di empat lokasi, masing-masing di Pulau Selayar tiga unit, Sulawesi Utara dua unit, dan Nusa Penida, Bali, serta Bangka Belitung, masing-masing satu unit. Mengacu pada kebijakan energi nasional, maka pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) ditargetkan mencapai 250 megawatt (MW) pada tahun 2025.

sumber :

http://renewableenergyindonesia.wordpress.com/

http://www.kincirangin.info

Indrawan said, April 7, 2008 @ 4:13 am PLTB (pembangkit listrik tenaga bayu) saat ini cukup menjadi primadona di dunia barat dikarenakan potensi angin yang mereka miliki (daerah sub tropis) sangat besar. Berangsur-angsur tapi pasti, PLTN mulai diganti dengan penggunaan PLTB ataupun pembangkit renewable lainnya. Perlu diingat di lokasi-lokasi tersebut size kapasitas PLTB mereka sudah besar – besar (Min 1 MW). PLTB ukuran kecil seperti di Nusa penida dengan kapasitas 80 kW sangat teramat jarang sekarang ini. Untuk di Indonesia, dengan iklim tropisnya mungkin akan cukup sulit untuk menemukan daerah dengan potensi angin (distribusi anginnya)yang konstan/baik. Ada beberapa daerah di Indonesia yang katanya memiliki kecepatan angin cukup tinggi (gust wind) berdasarkan survei yang dilakukan selama 3 bulan, tapi hal ini tidak berguna bagi PLTB bila kecepatan angin itu hanya cuma bertahan beberapa menit/detik saja dan kemudian hilang. Perlu adanya survei/studi berkesinambungan yang memerlukan data selama minimal satu tahun untuk mevalidasi potensi angin didaerah tersebut. Rata-rata PLTB yang dijual di pasaran untuk kapasitas kecil (kurang dari 100 kW), cut in dan cut out mereka adalah 3 dan 25 m/s dengan kecepatan optimumnya adalah 12 m/s. Didunia saat ini banyak ditemukan PLTB stand alone yang beredar dipasaran (utk ukuran 10 kW). Penggunanya adalah daerah-daerah terpencil yang tidak tersentuh oleh ataupun terlalu mahal untuk dihubungkan oleh grid. Kebanyakan dari mereka tidak pure hanya menggunakan PLTB tapi juga menggunakan PV. Selain karena disebabkan kebutuhan listrik yang cukup besar juga disertai dengan diversikasi energi apabila tiba-tiba tidak terdapat angin yang cukup. Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Indonesia saat ini untuk daerah-daerah terpecil seperti di kepulauan-kepulauan, diperlukan hybrid system antara potensi renewable energy yang ada dilokasi (seperti PLTB-PV-baterai, PV-PLTMH-Fuel Cell, dll). Akan tetapi perlu menjadi catatan, semua teknologi untuk penggunaan energi-energi tersebut masih cukup mahal bila dilihat dari kelayakan ekonominya terutama FC dan PV. Sekedar untuk info apabila ada yang tertarik untuk mengembangkan potensi renewable energy didaerahnya, anda bisa menggunakan standar IEC 62257 sebagai guidelines anda. Semoga info ini dapat membantu pengembangan renewable energy di Indonesia. Apabila ada kata-kata yang salah, saya mohon maaf dan tolong dikoreksi. Terima kasih

03
May
08

Potensi dan Teknologi Energi Samudera di Indonesia

Oleh: Harsono Soepardjo (Sumber Kompas 14 Mei 2003) LAUT selain menjadi sumber pangan juga mengandung beraneka sumber daya energi. Kini para ahli menaruh perhatian terhadap laut sebagai upaya mencari jawaban terhadap tantangan kekurangan energi di waktu mendatang dan upaya menganekakan penggunaan sumber daya energi. KESENJANGAN antara kebutuhan dan persediaan energi merupakan masalah yang perlu segera dicari pemecahannya. Apalagi mengingat perkiraan dan perhi- tungan para ahli pada tahun 2010-an produksi minyak akan menurun tajam dan bisa menja- di titik awal kesenjangan energi. Namun, pengembangan sumber energi alternatif memerlukan waktu sebelum sampai pada pemanfaatan secara ekonomi. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, Perancis, Kanada, Jepang, Belanda, dan Korea telah mulai meneliti kemungkinan pemanfaatan energi dari laut terutama panas laut, gelombang dan pasang surut, dengan hasil yang memberikan harapan cukup baik. Energi samudera dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu energi panas laut, energi pasang surut, dan energi gelombang. Untuk lautan di wilayah Indonesia, potensi termal 2,5 x 1023 joule dengan efisiensi konversi energi panas laut sebesar tiga persen dapat menghasilkan daya sekitar 240.000 MW. Potensi energi panas laut yang baik terletak pada daerah antara 6- 9° lintang selatan dan 104-109° bujur timur. Di daerah tersebut pada jarak kurang dari 20 km dari pantai didapatkan suhu rata-rata permukaan laut di atas 28°C dan didapatkan perbedaan suhu permukaan dan kedalaman laut (1.000 m) sebesar 22,8°C. Sedangkan perbedaan suhu rata-rata tahunan permukaan dan kedalaman lautan (650 m) lebih tinggi dari 20°C. Dengan potensi sumber energi yang melimpah, konversi energi panas laut dapat dijadikan alternatif pemenuhan kebutuhan energi listrik di Indonesia. Energi pasang surut Wilayah Indonesia terdiri dari banyak pulau. Cukup banyak selat sempit yang membatasinya maupun teluk yang dimiliki masing-masing pulau. Hal ini memungkinkan untuk memanfaatkan energi pasang surut. Saat laut pasang dan saat laut surut aliran airnya dapat menggerakkan turbin untuk membangkitkan listrik. Pemanfaatan pusat listrik energi pasang surut direalisasikan di La Ranche Perancis diikuti oleh Rusia di Murmansh, Lumboy, Tae Menzo Boy, dan The Thite Sea. Tidak jauh dari Indonesia, ada Australia yang memanfaatkannya di Kimberly. Saat ini potensi energi pasang surut di seluruh samudera di dunia tercatat 3.106 MW. Untuk Indonesia daerah yang potensial adalah sebagian Pulau Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Papua, dan pantai selatan Pulau Jawa, karena pasang surutnya bisa lebih dari lima meter. Mekanisme pusat listrik energi pasang surut tergantung pada beberapa faktor: arah angin, kecepatan, lamanya bertiup, dan luas daerah yang dipengaruhi. Oleh karena itu, di dalam penelitian mengenai energi ini faktor meteorologi/geofisika menjadi kuncinya. Pada pemanfaatan energi ini diperlukan daerah yang cukup luas untuk menampung air laut (reservoir area). Namun, sisi positifnya adalah tidak menimbulkan polutan bahan-bahan beracun baik ke air maupun udara. Selain panas laut dan pasang surut, masih ada energi samudera lain yaitu energi gelombang. Sudah banyak pemikiran untuk mempelajari kemungkinan pemanfaatan energi yang tersimpan dalam ombak laut. Salah satu negara yang sudah banyak meneliti hal ini adalah Inggris. Menurut pengamatan Hulls, deretan ombak (gelombang) yang terdapat di sekitar pantai Selandia Baru dengan tinggi rata-rata 1 meter dan periode 9 detik mempunyai daya sebesar 4,3 kW per meter panjang ombak. Sedangkan deretan ombak serupa dengan tinggi 2 meter dan 3 meter dayanya sebesar 39 kW per meter panjang ombak. Untuk ombak dengan ketinggian 100 meter dan perioda 12 detik menghasilkan daya 600 kW per meter. Karena beberapa laut di Indonesia mempunyai ombak dengan ketinggian di atas 5 meter, maka potensi energi gelombangnya perlu diteliti lebih jauh. Teknologi yang diperlukan Konversi energi panas laut adalah sistem konversi energi yang terjadi akibat perbedaan suhu di permukaan dan di bawah laut menjadi energi listrik. Potensi terbesar konversi energi panas laut untuk pembangkitan listrik terletak di khatulistiwa. Soalnya, sepanjang tahun di daerah khatulistiwa suhu permukaan laut berkisar antara 25-30°C, sedangkan suhu di bawah laut turun 5-7°C pada kedalaman lebih dari 500 meter. Terdapat dua siklus konversi energi panas laut, yaitu siklus Rankine terbuka dan siklus Rankine tertutup. Sebagai pembangkit tenaga listrik, konversi energi panas laut siklus Rankine terbuka memerlukan diameter turbin sangat besar untuk menghasilkan daya lebih besar dari 1MW, sedangkan komponen yang tersedia belum memungkinkan untuk menghasilkan daya sebesar itu, alternatif lain yaitu siklus Rankine tertutup dengan fluida kerja amonia atau freon. Berdasarkan letak penempatan pompa kalor, konversi energi panas laut dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe, konversi energi panas laut landasan darat, konversi energi panas laut terapung landasan permanen, dan konversi energi panas laut terapung kapal. Konversi energi panas laut landasan darat alat utamanya terletak di darat, hanya sebagian kecil peralatan yang menjorok ke laut. Kelebihan sistem ini adalah dayanya lebih stabil dan pemeliharaannya lebih mudah. Kekurangan sistem jenis ini membutuhkan keadaan pantai yang curam, agar tidak memerlukan pipa air dingin yang panjang. Status teknologi konversi energi panas laut jenis ini baru pada tahap percontohan dengan kapasitas 100 W dan dengan fluida kerja freon yang dilakukan oleh TEPSCO-Jepang, dengan lokasi percontohan di Kepulauan Nauru. Selain itu dibangun pusat penelitian dan pengembangan konversi energi panas laut landasan darat (STF) yang terletak di Hawaii. Untuk konversi energi panas laut terapung landasan permanen, diperlukan sistem penambat dan sistem transmisi bawah laut, sehingga permasalahan utamanya pada sistem penambat dan teknologi transmisi bawah laut yang mahal. Jenis ini masih dalam taraf penelitian dan pengembangan. Konversi energi panas laut terapung kapal beroperasi dengan bebas karena dibangun di atas kapal. Biasanya energi listrik yang dihasilkan untuk memproduksi berbagai bahan yaitu amonia, hidrogen, methanol, dan lain-lain. Status teknologi konversi energi panas laut jenis ini baru taraf percontohan, dengan nama pembangkit Mini OTEC yang berkapasitas 50 kW dengan lokasi percontohan di laut Hawaii. Mini OTEC menghasilkan daya bersih 10 kW sampai 15 kW. Selain itu, pada tempat yang sama beroperasi konversi energi panas laut dengan nama OTEC1 dengan kapasitas 1 MW. Perkembangan teknologi konversi energi panas laut di Indonesia baru mencapai status penelitian, dengan jenis konversi energi panas laut landasan darat dan dengan kapasitas 100 kW, lokasi di Bali Utara. Secara umum kendala pada teknologi konversi energi panas laut adalah efisiensi pemompaan yang masih rendah, korosi pipa, bahan pipa air dingin, dan biofouling, yang semuanya menyangkut investasi. Selain itu kajian sumber daya kelautan masih terbatas terhadap langkah pengembangan konversi energi panas laut. Energi pasang surut Tidak kurang dari 100 lokasi di dunia yang dinilai sebagai tempat yang cocok bagi pembangunan pembangkit energi pasang surut. Sistem pemanfaatan energi pasang surut pada dasarnya dibedakan menjadi dua yaitu kolam tunggal dan kolam ganda. Pada sistem pertama energi pasang surut dimanfaatkan hanya pada perioda air surut (ebb period) atau pada perioda air naik (flood time). Sedangkan sistem yang kedua adalah kolam ganda kedua perioda baik sewaktu air pasang maupun air surut energinya dimanfaatkan. Turbin dan saluran terletak dalam satu bendungan (dam) yang memisahkan kolam dan laut. Sewaktu air pasang permukaan air di kolam sama dengan permukaan laut. Sewaktu air mulai surut terjadilah perbedaan tinggi air (head) antara kolam dan laut yang menyebabkan air mulai mengalir ke arah laut dan memutar turbin. Pada sistem kolam ganda turbin akan berkerja dalam dua arah aliran. Kedua kolam dipisahkan oleh satu bendungan (dam) yang didalamnya terdapat turbin dua arah, masing-masing kolam memiliki saluran yang menghubungkan dengan laut. Meskipun turbin bekerja terus-menerus tetapi kecepatannya bervariasi, selain dengan perbedaan tinggi permukaan air di kolam dan permukaan laut. Perbedaan tinggi antara permukaan air di kolam dan permukaan air laut di tempat-tempat energi pasang surut berkisar beberapa meter sampai 13 meter. Penelitian pemanfaatan energi pasang surut telah dilakukan oleh beberapa negara; Perancis, Rusia, Amerika Serikat, dan Kanada sejak tahun 1920. Sete- lah lebih dari 40 tahun-tahun 1966- pembangkit energi listrik berkekuatan 240 MW yang digerakan oleh tenaga pasang surut berhasil dibangun oleh Perancis di pantai Estuari Rance. Di Rusia ada proyek energi pasang surut dengan kapasitas 2176 MW di Bay of Fundy. Berdasarkan estimasi kasar jumlah energi pasang surut di samudera seluruh dunia adalah 3.106 MW. Khusus untuk Indonesia beberapa daerah yang mempunyai potensi energi pasang surut adalah Bagan Siapi-api, yang pasang surutnya mencapai 7 meter, Teluk Palu yang ini struktur geologinya merupakan patahan (Palu Graben) sehingga memungkinkan gejala pasang surut, Teluk Bima di Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Kalimantan Barat, Papua, dan Pantai Selatan Pulau Jawa. Energi gelombang Gelombang laut merupakan salah satu bentuk energi yang bisa dimanfaatkan dengan mengetahui tinggi gelombang, panjang gelombang, dan periode waktunya. Ada empat teknologi energi gelombang yaitu sistem rakit Cockerell, tabung tegak Kayser, pelampung Salter, dan tabung Masuda. Sistem rakit Cockerell berbentuk untaian rakit-rakit yang saling dihubungkan dengan engsel-engsel dan sistem ini bergerak naik turun mengikuti gelombang laut. Gerakan relatif rakit-rakit menggerakkan pompa hidrolik yang berada di antara dua rakit. Sistem tabung tegak Kayser menggunakan pelampung yang bergerak naik turun dalam tabung karena adanya tekanan air. Gerakan relatif antara pelampung dan tabung menimbulkan tekanan hidrolik yang dapat diubah menjadi energi listrik. Sistem Pelampung Salter memanfaatkan gerakan relatif antara bagian/pembungkus luar (external hull) dan bandul didalamnya (internal pendulum) untuk diubah menjadi energi listrik. Pada sistem tabung Masuda metodenya adalah memanfaatkan gerak gelombang laut masuk ke dalam ruang bawah dalam pelampung dan menimbulkan gerakan perpindahan udara di bagian ruangan atas dalam pelampung. Gerakan perpindahan udara ini dapat menggerakkan turbin udara. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Finlandia, dan Belanda, banyak menaruh perhatian pada energi ini. Lokasi potensial untuk membangun sistem energi gelombang adalah di laut lepas, daerah lintang sedang dan di perairan pantai. Energi gelombang bisa dikembangkan di Indonesia di laut selatan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Dr A Harsono Soepardjo M Eng Pusat Studi Kelautan, F-MIPA Universitas Indonesia




 

November 2009
M T W T F S S
« Mar    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Flickr Photos

Lake Tekapo

the wood

depart du matin  ...

More Photos

Blog Stats

  • 17,530 hits

Tags

where you from

<script language="Javascript" src="http://www.ip2phrase.com/ip2phrase.asp?template=You are browsing our website through ISP .">
Powered by IP2Location.com