Harga Minyak Bisa Tembus 140 Dollar AS
Pemerintah Harus Lakukan Enam Langkah Konkret
Senin, 28 April 2008 | 01:05 WIB
Jakarta, Kompas – Pemerintah diperingatkan bahwa harga minyak mentah di pasar dunia bisa menembus 140 dollar AS per barrel pada akhir 2008. Ini karena ada potensi melemahnya nilai dollar AS terhadap mata uang asing lain, faktor geopolitik, dan kapasitas produksi minyak Arab Saudi yang tidak signifikan.
Pengamat perminyakan Kurtubi mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Minggu (27/4).
Menurut catatan Kompas, harga minyak dunia terus melejit sejak Oktober 2007. Setelah menembus 100 dollar AS per barrel pada akhir Februari 2008, harga emas hitam ini terus mendaki. Jumat pekan lalu, harga minyak dunia mendekati 120 dollar AS per barrel. Harga ini dipicu oleh insiden penembakan dua kapal Iran di Teluk Persia oleh kapal Amerika Serikat.
Hari Minggu, sebanyak 1.200 pekerja penyulingan minyak Grangemouth, Skotlandia, memulai pemogokan massal terkait tuntutan soal pensiun. Penyulingan Grangemouth memasok lebih dari 40 persen kebutuhan minyak seluruh Inggris.
Menurut Reuters, pemogokan ini juga membuat jaringan pipa Forties yang memasok 700.000 barrel minyak dari Laut Utara ke Inggris dan pasar dunia berhenti beroperasi. Kurtubi menjelaskan, fundamental pasar minyak dunia yang sudah ketat, ditambah problem teknis dari hulu sampai hilir seperti yang terjadi pada kilang Grangemouth, akan semakin mendongkrak harga minyak.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Kurtubi berpendapat, pemerintah harus melakukan enam langkah konkret.
Pertama, segera menaikkan produksi minyak mentah. Janji kepala BP Migas untuk memproduksi di atas satu juta barrel per hari perlu segera direalisasikan.
Kedua, pemerintah harus mengefisiensikan pembayaran biaya operasional kontraktor migas yang dibebankan kepada negara (cost recovery). Ini artinya harus segera menindaklanjuti temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyangkut pengadaan barang dan jasa.
Ketiga, tuntaskan konversi premium ke bahan bakar gas (BBG) untuk semua angkutan umum dan kendaraan pemerintah. Pada saat yang sama selesaikan konversi minyak tanah ke elpiji sebesar 2 juta kiloliter.
Keempat, kaji kemungkinan pajak atas keuntungan yang diperoleh dari tambahan penerimaan akibat kenaikan harga minyak mentah (windfall profit tax) yang diterima 42 kontraktor migas. Kelima, awasi pelaksanaan kartu kendali (smart card).
”Langkah keenam, pemerintah menaikkan harga BBM maksimal 30 persen,” ujar Kurtubi.
Jika harga minyak mentah dunia melonjak ke angka 140 dollar AS per barrel, pemerintah akan dihadapkan pada tekanan berat akibat membengkaknya subsidi BBM. Ini mungkin terjadi jika realisasi produksi minyak mentah dalam negeri (lifting) tidak mencapai sasaran, yakni 927.000 barrel per hari.
Harga minyak di pasar dunia merupakan basis perhitungan harga minyak yang diimpor Pertamina, dan tercatat sebagai pengeluaran migas. Adapun lifting merupakan basis perhitungan penerimaan migas di APBN.
Jika penerimaan migas lebih kecil daripada pengeluaran migas, maka perlu tambahan anggaran subsidi. Saat ini anggaran pengaman untuk menutup subsidi BBM yang melonjak mencapai Rp 9,3 triliun. Namun, jika harga minyak terus naik, bantalan pengaman bisa membengkak di atas Rp 9,3 triliun. Jika bantalan itu tidak disediakan, pemerintah harus mengurangi subsidi BBM, yang berarti menaikkan harga BBM.
Dirjen Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan Herry Purnomo menjelaskan, anggaran subsidi BBM yang ada di kas negara secara riil belum digunakan. Itu disebabkan mekanisme pembayaran subsidi BBM masih harus diperhitungkan dengan Pertamina.
Total subsidi BBM dalam APBN Perubahan 2008 mencapai Rp 126 triliun. Melonjak dari alokasi awal di APBN 2008 sebesar Rp 45 triliun. (OIN/JOY)
sumber :
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/04/28/01055375/harga.minyak.bisa.tembus.140.dollar.as





Recent Comments